PuisiSedih Tentang Ibu Ibu, Sudah lama aku merindu, Menyimpan lara dalam kalbu, Kapankah kita akan bertemu. Mengapa kita harus berpisah, Membuat pikiranku jadi resah, Air mata ini membuat basah, Menambah sedih sebuah kisah. Ingin diri ini tidur dalam pelukanmu, Mungkin hangat rasa hatiku. Akan hilang segala sedihku,
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Wahai ibuku....sang pahlawanku.....Terima kasih engkau sudah melahirkanku. Dari kecil hingga sekarang. Kau adalah orang yang terpenting bagiku,Oh....ibuTerima kasih sudah wanita yang berharga bagiku Terima kasih atas jasa dan ilmu yang kau berikan ibu.....Aku sungguh sayang tak mau kasih banyak atas love ibuku...... Lihat Puisi Selengkapnya
berikut adalah cerita pendek yang berjudul "Ibuku Pahlawanku Cerpen: Ibuku Pahlawanku Hari itu, dalam kamar tidur yang sederhana, aku duduk di depan meja belajar dengan perasaan frustasi yang menggebu-gebu. Buku-buku dan catatan kuliah berserakan di sekitarku, dan tumpukan tugas yang menumpuk seolah menertawakanku.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ibu.... Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata ibu?. Ya, saat aku mendengar kata ibu, aku teringat dengan besarnya jasa ibu dalam hidupku, yang mempertaruhkan hidupnya saat melahirkan aku. Banyak kenangan yang telah aku lewati bersama ibu. Begitu besarnya jasa ibu, membuat aku tidak ingin melukai hatinya. Tidak ingin, membuat beliau menangis karena pertanyaan yang selama ini belum bisa terjawab oleh diriku mengenai apakah aku bisa membahagiakan ibu atau sudah bisa membalas jasa ibu? Mengingat pengorbanan ibu kepada anaknya, ingin rasanya membahagiakan ibu. Meskipun ibu mengatakan bahwa kebahagiaannya saat melihat anak-anaknya bahagia. Ya seperti inilah seorang ibu, selalu ingin anaknya bahagia. Ibuku adalah wanita paling tangguh dan paling sabar. Beliau adalah pahlawan dalam hidupku. Beliau bernama Katmini. Beliau anak kelima dari enam bersaudara. Beliau lahir di Ngawi. Beliau mempunyai cita-cita agar anak-anaknya dapat bahagia dan dapat sukses kedepannya. Makanan kesukaan beliau soto dan bakso. Minimum kesukaannya yaitu teh hangat maupun es teh. Beliau juga menyukai minuman jahe. Beliau menyukai warna hitam sama merah. Beliau mempunyai kegemaran memasak dan bercerita. Cerita ini dimulai saat ibuku masih kecil. Beliau belajar di sekolah negeri pada umumnya. Beliau mengenyam pendidikan pertama di TK Gedung Jambu. Beliau melanjutkan sekolah di SD, yang sekarang bernama SDN Jeblogan 2. Setelah lulus SD ibuku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Setelah beberapa tahun, ibuku bekerja dan bertemu dengan ayahku. Beliau akhirnya memutuskan untuk menikah. Beliau dikaruniai anak pertama setelah dua tahun pernikahannya. Siapa kah anak pertamanya?.. Ya betul, akulah anak pertama dari ibuku. Aku lahir bulan Januari, karena berat badan bayi yang lahir cukup besar mengharuskan untuk ibuku dirujuk ke rumah sakit kota. Ya aku lahir di rumah sakit umum Ngawi. Setelah beberapa bulan aku lahir, aku harus kehilangan ayahku. Ya, tepatnya saat aku berusia empat bulan. Karena, ayahku sakit. Ibuku perempuan yang tangguh. Beliau bisa kuat dalam menghadapi cobaan yang menimpa dirinya. Beliau bisa meneruskan merawat diriku yang masih kecil. Hal ini yang membuatku tidak akan pernah lupa dengan perjuangan ibuku. Ibuku dapat menjalani kehidupan sehari-harinya dengan dari kecil aku sudah ditanamkan untuk menjadi anak yang mandiri. Apapun yang bisa dikerjakan sendiri sebisa mungkin untuk mengerjakan sendiri. Beliau memberikan wawasan agar bisa menjadi wanita yang mandiri. Hal tersebut beliau tanamkan, karena merujuk pada kisah kehidupan beliau yang harus ditinggal saat beliau bergantung pada ayahku. Ibuku selalu menanamkan jiwa bahwa apapun bisa dicapai, kalau kita berusaha bersungguh-sungguh dan disertai dengan doa yang ikhlas. Setelah beberapa tahun, ibu akhirnya menikah lagi. Ya.... Aku bahagia saat ibu bisa melanjutkan kehidupannya. Aku ikut senang, terlebih menikah dengan orang yang baik dan dapat menerimaku dengan ikhlas. Semuanya berjalan dengan baik. Yang membuat bersyukur salah satunya ada adik tersayang. Ya walaupun terkadang bertengkar. Tetapi menurutku itu hal yang wajar. Satu hal yang tidak pernah terlewatkanku yaitu selalu meminta doa sebelum memutuskan sesuatu yang penting. Tidak hanya itu, aku selalu minta pertimbangan beliau dalam sudut pandangnya. Bukan aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri, tetapi lebih ingin melibatkan ibu dalam segala hal yang aku akan putuskan. Alasan lainnya karena ibu segalanya bagiku. Ibu juga menanamkan kepada anak-anaknya untuk saling tolong menolong dan menjaga persaudaraan. Tentunya, mengutamakan kepentingan keluarga diatas kepentingan pribadi. Dengan keluarga, khususnya ibu, aku terbuka dalam segala hal. Bisa menceritakan hal-hal atau kejadian yang yang telah terjadi. Selain itu ibuku juga seorang yang tegar dan kuat mengahadapi cobaan yang terjadi. Beliau yakin di dalam cobaan ini ada hikmah yang bisa diambil. 1 2 Lihat Cerpen Selengkapnya

PAHLAWANKU INILAH JANJIKU Karya: NN Aku tak pernah tahu siapakah dirimu apakah pekerjaanmu kala itu yang aku tahu sejarah telah menaburi dirimu dengan bunga-bunga yang mengharumkan namamu Pahlawanku, perjuanganmu dalam memperjuangkan kemerdekaan mempertahankan harga diri bangsa yang bertahun-tahun lamanya diinjak-injak bangsa kolonialis Aku baca buku judulnya Ibuku Pahlawanku, karangan Aminah Mustari, diterbitkan oleh Gema Insani. Ceritanya baguuuus sekali tentang kita harus menghormati ibu/orang tua kita. Mau tahu, kan? begini ceritanya Ibuku adalah orang yang paling adalah pahlawanku!aku bangga kepadanya. Ibu tidak memiliki sayap dan tidak punya otot yang ia lebih hebat dari jagoan mana puna. Tanpa ibu, aku tidak akan pernah ada di dunia. Dari buku itu aku jadi semakin sadar bahwa ibu selalu ada untuk kita. Kalau kita sedang sedih ibu pasti akan menghibur, oleh karena itu kita harus sayang kepada ibu kita karena kalau tidak ada ibu kita tak akan ada di dunia ini kan .................... Setelah baca buku itu aku jadi punya ide. Aku punya puisi untuk ibu IBUKU TERCINTA Ibu engkau melahirkan dan membesarkanku sampai aku dewasa dan merawatku dengan kasih sayang. Ibu yang kusayangi dan ku cintai tak akanku lupakan selama-lamanya.

CeritaDeskripsi Pendek Tentang Ibu - Hello friends baba-syam, In the article that you read this time with the title Cerita Deskripsi Pendek Tentang Ibu, we have prepared this article well for you to read and retrieve information in it. hopefully fill in the post Artikel Cerita Sahabat Nabi, what we write can you understand.OK, happy reading. Title : Cerita Deskripsi Pendek Tentang Ibu link

IBUKU PAHLAWANKU Oleh Adi Supriawan Setiap kita adalah anak yang dilahirkan melalui rahim seorang ibu. Ibu merupakan orang tua selain ayah yang telah melahirkan dan mendidik kita sehingga menjadi besar dan berpendidikan serta meraih gelar maupun jabatan. Tentulah di setiap benak orang tua menginginkan anak-anaknya cerdas, berwawasan luas dan bertingkah laku baik, berkata sopan dan kelak suatu hari anak-anak mereka bernasib lebih baik dari mereka, baik dari aspek kedewasaan pikiran, kondisi ekonomi, agama maupun status sosial. Tidak peduli seberapa besar tenaga yang dihabiskan, tidak pula khawatir seberapa banyak uang yang harus dikeluarkan demi mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang kesuksesan sesuai dengan profesinya. Hanya satu harapan terpenting dari mereka adalah melihat anaknya dapat hidup bahagia. Sejatinya, mereka tidak mengharapkan imbalan sedikitpun dari anak-anaknya. Tetapi apa yang mereka dapatkan? tidak sedikit dari anak memperlakukan orang tua dengan balasan perlakuan yang tidak menyenangkan hati mereka. Ada ungkapan yang mengatakan kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan. Tentulah ungkapan ini tidak berlebihan karena begitulah kebanyakan pada kenyataannya. Mereka rela banting tulang, kerja keras, peras keringat demi anak-anaknya dan tidak ingin melihat anaknya bersedih. Di dalam buku “surga di depan mata”, sebuah kisah nyata berasal dari kota kecil di Taiwan, diceritakan bahwa ada seorang pemuda cerdas, rajin dan cukup menyenangkan. Beberapa tahun baru lulus kuliyah dan bekerja di perusahaan swasta dengan gaji yang lumayan besar. Pemuda ini tipe yang humoris dan gaya hidup sederhana sehingga menyebabkan banyak orang yang senang bergaul dengannya. Di rumahnya tinggal seorang wanita tua, sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti luka bernanah yang baru kering. Rambutnya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Mukanya cacat seperti luka bakar. Wanita tua itu seperti monster menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan keluar dari kamar kalau tidak ada keperluan penting. Wanita itu adalah ibu kandung dari pemuda tersebut. Meskipun demikian, wanita tua tersebut tetap melakukan aktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Mulai dari membereskan rumah, pekerjaan dapur, dan lain-lain. wanita tua itu juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada pemuda itu. Namun pada kenyataannya pemuda itu sulit untuk menerima keadaan ibunya yang memiliki cacat dan menyeramkan. Setiap kali ada teman yang bertanya “siapa wanita cacat” di rumahnya, ia selalu menjawab, “wanita itu adalah pembantu yang dulu ikut ibuku dulu sebelum meninggal. Ia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kesian”. Tentulah ucapan sang pemuda ini membuat wanita tua tersebut menjadi sedih, tetapi ia hanya bisa diam dan menelan pil pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar kamarnya, takut anaknya tidak bisa menjelaskan pertanyaan dari teman-temannya tentang dirinya. Hingga suatu hari wanita tua itu jatuh sakit parah hingga tidak dapat lagi bangun dari tempat tidurnya. Pemuda itupun mulai kerepotan mengurusi rumah dan menggantikan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh ibunya. Ditambah ia harus menyiapkan obat-obatan buat sang ibu sebelum dan sesudah pulang kerja. Keadaan ini membuat sang pemuda semakin jengkel dan suka marah-marah. Suatu hari, ia mengacak-acak lemari ibunya, ia melihat kotak kecil. Di kotak itu hanya terdapat foto dan lembaran koran yang sudah usang. Tidak seperti dugaan sebelumnya berisi perhiasan. Dalam foto itu tampak seorang wanita cantik dan potongan koran itu memberitakan Seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobosi api yang sudah mengepung rumah. Sang wanita “ibu muda” menderita luka bakar sedangkan anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau potongan koran dan foto itu sudah usang, tapi ia cukup dewasa untuk mengenali siapa ibu muda cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan Koran tersebut. Tiada lain wanita itu adalah ibunya kandungnya. Wanita yang sekarang terbaring tak berdaya, sering dimarahi serta tidak diakui keberadaanya sebagai ibu karena keadaan yang membuatnya malu. Padahal cacat yang diderita ibunya disebabkan oleh dirinya ketika masih kecil. Spontan air matanya mengalir tanpa dapat dibendung. Dengan menggengam foto dan potongan koran itu, dia berlari menghampiri ibunya yang sedang terbaring di ranjang. Dengan menahan air mata ia meminta maaf dan memohon ampun atas semua yang dilakukannya selama ini. Sang ibu pun ikut menangis karena terharu melihat ketulusan anaknya. Sudah nak… ibu sudah maafkan. Jangan diungkit lagi. Cerita di atas hanyalah salah satu dari bentuk pengorbanan seorang ibu dan masih banyak lagi pengorbanaan dan kasih sayangnya yang mungkin belum kita ketahui, dengan jelas bahwa kasih ibu takkan bisa terganti dan terbalaskan. Sebesar apa pun kesalahan anak, seorang ibu akan dengan tulus memaafkan dan tidak menyimpan dendam terhadap anaknya. Ibu merupakan sosok pahlawan bagi anaknya, ia rela mengorbankan waktu, harta bahkan nyawa sekalipun. Maka sudah sewajarnya lah kita berbakti kepada orang tua. Hal ini pun sebagaimana juga yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.luqman14. Kita diperintahkan bersyukur kepada Allah, perintah tersebut diikuti juga dengan perintah agar bersyukur kepada ibu dan bapak. Betapa mulianya kedudukan orang tua, sehingga Allah memerintahkan manusia bersyukur kepada ibu dan bapak setelah bersyukur kepada-Nya. Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menekankan kepada jasa ibu. Hal ini disebabkan karena ibu memiliki potensi untuk tidak dihiraukan anaknya karena kelemahan ibu. Di sisi lain peranan bapak dalam konteks kelahiran anak lebih ringan dibandingkan seorang ibu. Betapa besar jasa seorang ibu mulai dari kita dalam kandungan, dilahirkan bahkan sampai saat kita dewasa tidak pernah henti-hentinya seorang ibu memberikan kasih sayang serta pengorbanan yang tidak dapat dinilai dengan materi. Maka pantaslah Islam mengagungkan kedudukan seorang ibu, bahkan disebutkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Dialah pahlawan bagi anak-anaknya, yaitu pahlawan tanpa pamrih dan penuh keikhlasan. Mudah-mudahan kita bisa menjadi anak yang berbakti dan bisa membalas jasa kedua orang tua kita. Amin Ya Rabbal Alamin…..

Oleh: Anna Nur F. ADA jejak cinta yang amat dalam di relung jantungku. Cinta putih yang tiada duanya. Menyemangati hari-hari sepanjang hidupku. Mewarnai derap langkahku hingga kini. Cinta yang kadang membuatku tiba-tiba merasa teramat rindu. Cinta yang tanpa sadar sering muncul menyeruak begitu hebat. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ibu...Saat kuterlahir ke dunia,Kau pertaruhkan jiwa dan ragamu,Tak peduli dengan nyawa dikandung badan,Asal kuterlahir sempurna menjadi manusia besarkan aku dengan asihmu,Tak pernah marah, saat ku salahTak pernah lelah, saat kuperintahRasanya, kau tak rela melihat diriku jika tak pahlawan hidupku, pahlawan sejatikuKasihmu yang tulus sepanjang masa,Kan kukenang selamanya,Tanpa lupa berusaha membalasnya. Ibu...Harta dan tenagaku, tak cukup untuk membalas jasamuHanya saja aku memiliki seuntai asa,Ingin berbagi kebahagian denganmu,Tanpa mengenal waktu. Lihat Puisi Selengkapnya Cerpen: Guruku pahlawanku. Web portal pendidikan - Cerpen kali ini berjudul Guruku pahlawanku, yang dikirimkan oleh salah satu peserta dalam ajang lomba cerpen nasional bersama belapendidikan.com. Untuk lebih lengkapnya dapat kita lihat sebagai berikut. Daftar isi [ hide] Cerpen : Guruku Pahlawanku (Bagian Pertama) Cerpen : Guruku Pahlawanku
Hai, Sobat Guru Penyemangat. Apakah belakangan ini dirimu sedang sibuk mengumpulkan daftar nama-nama pahlawan?Jika iya, maka tolong periksa kembali ya daftar tersebut. Karena aku ingin menambahkan satu nama pahlawan yang menurutku tidak boleh itu? Dialah Ibu. Ibuku Pahlawanku. Pahlawan sejak diriku mengenal huruf hinggalah bisa menulis cerpen. Dialah mama, wanita dengan ketulusan tiada nih. Kebetulan Guru Penyemangat dapat kiriman cerpen bertema Ibuku Pahlawanku dari ialah Bu Sri Rohmatiah. Dia pula seorang Kompasianer yang belakangan ini sibuk menulis artikel tentang dunia rak piring. Eh, maksudku mungkinkah dirimu mulai penasaran tentang bagaimana kisah Ibuku Pahlawanku? Cuz, langsung kita simak cerpen berikut, yaCerpen Pahlawan Tangguh Tak Pernah MengeluhWaktu menunjukkan pukul dua dini hari, ketika ibu membangunkanku dengan lembut, “Ayo bangun, kita ke pasar!”Sebetulnya mata ini masih ngantuk, badan rasanya capek. Walaupun sekolah belum full, tetapi, aku sering ke sekolah. Selalu ada kegiatan yang melibatkan OSIS, belum tugas-tugas dari guru les, seabreg. Ah abaikan itu hanya alasan saja untuk tak bisa membuat alasan hanya untuk menolak mengantar ibu ke pasar. Ibu kulakan sayuran juga demi biaya sekolah aku dan adik semata wayang yang nakalnya minta sebetulnya tidak nakal, hanya manja, karena perbedaan usia kami sangat jauh. Aku kelas 12 sementara adikku kelas 3 SD. Kata Ibu, wajar dia nakal, dia butuh perhatian seorang dia baru satu tahun meninggal karena sakit gagal ginjal. Sakitnya sudah lama, sejak aku duduk di kelas 7. Terbayang kan adikku saat itu masih kecil. Ketika aku masuk tsanawiyah, ayah tidak mengantarku lagi, “Sekolahmu dekat, pakai sepeda saja ya, Le!” Jika dibandingkan sekolah MI dulu, MTs. Memang dekat, hanya 6 kilometer, ditempuh dengan sepeda pancal memerlukan waktu sekitar setengah jam. Pada mulanya aku tidak faham, mengapa Ayah menyuruhku naik sepeda. Setelah beberapa kali ke dokter, barulah tahu kalau ia ibuku, “Ayahmu ginjalnya sakit, Le.”Aku tidak tahu, kenapa Ayah bisa gagal ginjal. “Jangan tanya kenapa, Le, sekarang bagaimana kita mengobati Ayahmu biar sembuh,” jawab Ibu ketika aku bertanya penyebab Ayah Ibu tidak memuaskan. Setelah aku menginjak SMA, baru kuketahui, kalau gagal ginjal disebabkan tiga hal. Di antaranya, kerusakan langsung pada ginjal, kurangnya pasokan darah ke ginjal, dan penyumbatan pada ginjal atau saluran kemih, sehingga urine tidak bisa dikeluarkan dari tubuh. Itu sebabnya, tubuh ayah terkadang bengkak, padahal minumnya dijatah oleh empat tahun, Ayah operasi sudah empat kali, satu tahun sebelum meninggal, cuci darah setiap dua pekan sekali. Pengobatan yang panjang memerlukan biaya banyak, apalagi Ibu menolak BPJS, alasannya ingin memberi yang terbaik untuk Ayah. Sedikit demi sedikit tabungan Ayah terkuras, barang yang ada pun dijualnya, mulai dari mobil, Ibu telah menghabiskan tabungan untuk pengobatan Ayah, tak pernah mengeluh. Kami hanya berusaha yang terbaik untuk ayah. Dengan sisa uang tabungan, Ibu membuka warung sayur mentah. Setiap pukul dua pagi, ia ke pasar, kulakan sayuran. “Aku antar, Bu!”“Nggak usah, kau jaga adikmu saja, Le!” ujar Ibu menolak niat Ibu nyaman ke pasar sendiri tengah malam. Namun, seringkali mendapat kendala ketika perjalanan pulang.“Le … motor Ibu mogok, jemput ya dekat jembatan Winongo!” atau“Le … belanjaan Ibu banyak sekali, tidak bisa bawa, susul ke pasar ya!”Bukan itu saja, yang lebih parah, ketika motornya ditabrak orang, “Le … Ibu ada di kantor polisi, ditabrak anak muda!”Berita yang mengagetkan sering terjadi. Bukan tidak ikhlas menyusul Ibu, tetapi, kesehatan, keselamatan Ibu lebih penting. Aku dan adikku tak punya ayah, bagaimana bisa Ibu kerja keras sendiri.“Bu, kita beli motor roda tiga tossa saja, biar aku yang antar Ibu,” saranku malam menolak dengan alasan tak punya uang. Kredit, mungkin itu jalan satu-satunya. Ibu tetap tak setuju untuk kredit. Alasannya sih masuk akal, kredit itu harganya akan lebih tinggi. Kita juga punya beban bayar tiap bulannya, jika jualan Ibu ramai, bisa bayar, jika tidak?Tiba-tiba, Ibu melontarkan usulan yang membuat jantungku jatuh.“Le, jual saja tanah sawah sepetak itu untuk usaha Ibu.”“Jangan, Bu, itu untuk makan kita, Ayah pun dulu melarang kita menjual sawah dan rumah,” larangku dengan tegas. “Maksud Ibu, karena kita tidak bisa garap sawah, kita jual tahunan, orang bisa beli selama lima tahun, tanah tetap milik kita, Le,” terang Ibu panjang kali lebar sama dengan aku pikirkan, ide Ibu bagus juga, Ibu tidak bisa terjun ke sawah, apalagi ada motor tossa, aku bisa mengantar Ibu pergi ke pasar. Namun, jika aku ada ulangan atau harus sekolah pagi, Ibu tidak itu besar, baknya juga, Ibu semangat belajar mengendarainya, “Biar Ibu tidak menganggu sekolahmu, Le," katanya kala memang pahlawanku, ketika kehilangan sayapnya, dia tak pernah mengeluh, Ibu tangguh tak pernah mengeluh. Madiun, 12 November 2021***Nah, demikianlah tadi seuntai sajian cerpen bertema Ibuku Pahlawanku yang dikirim jauh-jauh dari Ibu memang benar-benar sosok yang tangguh dan enggan untuk mengeluh, ya. Itulah Emak, Bunda, dan Mama. Dialah Baca Cerpen Ayahku Pahlawanku
CerpenGuruku Pahlawanku. Dok. masih ingat kisah penuh emosi di kala itu. Saat di mana aku masih pertama kali mengenakan baju putih merah, berdasi dan bertopi dengan lambang Tut Wuri Handayani. Katanya, aku diminta wajib bersepatu hitam tanpa ada sedikit pun putih.
23 Views Cari Ramban Home Detail Result Ibu, pahlawanku antologi cerpen perian ibu / penulis, pelajar penyadur SDN Dr. Sutomo V/327 Surabaya ; pengedit, Rita Erwiyah Cite This Tampung Tampung Jenis Bahan Monograf Judul Ibu, pahlawanku himpunan cerpen hari ibu / penulis, pelajar katib SDN Dr. Sutomo V/327 Surabaya ; editor, Rita Erwiyah Titel Asli Kop Seragam Pengarang Dimas Aryo Purbokusumo penulis - – Ibuku terkasihChelsea Rachel Lorensa penyalin - – Kasih ibu sejauh perianKautsar Razaaq Warisan penulis - – Kasihmu ibuNazwa Adelia Rahmawati penulis - – Kasih ibuYasmeen Az Zahra penulis - – Pengorbanan koteng ibuRachmad Rio Syaifuddin penulis - – Pertentangan ibuRenata Aurelia Islami Dara perekam - – Ibuku kebanggaankuRaditya Bayu penulis - – Ibu sang pahlawanLexieano Adhi Manggabarani penulis - – Ibuku yang cantikAlysia Naura Wardhani katib - – Cinta dan hidayah koteng ibuAnggita Rahma Melati penyalin - – Ibuku pahlawankuAuryn Melanie Cahya P penulis - – Cerpen ibuArini Kurnia Sari penulis - – Dialah juaranya, ibuChristian Gracio Naranoella Benu katib - – Mamaku pahlawankuClarissa Leona Yap Mally penulis - – Mamaku tersayangClaudines Lyna penulis - – Ibuku tercintaDefina Fairly Artanti penulis - – Ibu yang tangguhDinar penulis - – IbuDwi penulis - – Ibuku terkasihElizabeth penulis - – Ibu terkasihElza katib - – Kasih selalu seorang ibuImel Stephanie Putri A. penulis - – Ibuku tercintaIvanda Forhisa penyadur - – IbuJason Marlon Assa penulis - – Mama, sambut hidayah telah mengajakku ke makassarTelaumbanua, Jesica Marcelia penulis - – Maafkan aku mamaJoshua penulis - – Untuk mamaMuhammad Abiyyu dabir - – Perjuangan seorang ibuNabilla Maulidya Difa Putri penyadur - – Ibuku, surgakuNadya Prawita Esensi perekam - – Lovely momNayla Chairunnisa Prasetyo carik - – Hadiah nan tak tergantikanNikita Upik Winarno penyadur - – Bakal ibuNilam Putri Aviolish penulis - – Pahlawan hidupkuNunky Herawati penulis - – Cerpen akan halnya ibuOmar Rasyiid Muhammad penulis - – My angel told meOrlin Desvania P katib - – Kasih ibu takkan tergantikanRaffel Arya Caesar Pratama penulis - – Ceritaku mengenai ibuRayyen penulis - – Ibu tercintaRico penulis - – MamikuRizkita Ratih R penyadur - – IbuSsabrina Mahatma Dewi penulis - – Ibuku malaikatkuSahrul Nugraha Gusti penulis - – IbuSalma Zakiyyah penulis - – Mamaku penolongkuSalsabilla Neyza katib - – Kegiatanku bersama ibuSaskya Angelina katib - – IbuSeptian Ramadhan notulis - – Aku selalu ibuShabira Nazwa penulis - – IbuShylom Greaciska penulis - – Malaikatku yang jompoSinuhun Albar Hamid penulis - – Pengorbanan ibuTiara Oktavia Sambuaga penulis - – Ibu yang terbaikZahir Bima Pramudya penulis - – IbuZhaskia Ramadhani penulis - – Kado bikin ibuRita Erwiyah editorSurabaya. Sekolah Dasar Negeri Dr. Sutomo V/327 Edisi Gemblengan Permulaan Desember 2022 Pernyataan Semarak Penerbitan Surabaya Caremedia Communication, 2022© 2022 pada penulis Deskripsi Fisik x, 188 jerambah ; 21 cm Varietas Isi teks Jenis Media tanpa perantara Jenis Wadah volume Permakluman Teknis ISBN 978-602-5683-52-7 ISSN ISMN Subjek Cerita pendek – Kumpulan Abstrak Ki akal ini berisi pusparagam cerita pendek karya siswa Sekolah Dasar Negeri dengan tema seputar kasih besar perut ibu dalam rangka memperingati perian ibu. Penulisan cerita pendek ini merupakan bagian dari usaha sekolah untuk menanamkan karakter baik kepada peserta jaga, dalam kejadian ini yaitu pelahap dan pemberian anak kepada ibu bapak khususnya ibu. Catatan Bahasa Indonesia Rencana Karya Cerita sumir Target Pembaca Publik Lokasi Akses Online Karya Terkait Garis terdepan / penyadur, Alysia Naila ; penyunting, Badriah Luzac’s oriental list and book review Panduan Instan CorelDraw X5 Panduan Instan Excel 2010 Panduan Instan Photoshop CS5 Windows 7 Ngoprek Habis-habisan Pakcik Gober Selfish / Janine Amos ; penerjemah, FL. Christi Wardani Luzac’s oriental list Pengantar kedjalan ekonomi perusahaan/ Mohammad Hatta Source
Sikap heroik dan kepahlawanannya terutama ditunjukan ibuku saat ayahku meninggal dunia pada 1979. Sejak ayahku meninggal, ibuku tentu menanggung beban hidup yang amat berat: beban moral, sosial, maupun finansial. Namun demikian, situasi sulit dan himpitan hidup yang amat berat itu sama sekali tidak membuat ibuku patah semangat.
Oleh Nabil Zubair Tahfizh 1 Ibu… Dia selalu ada bagiku…. Saat aku sedih kau selalu menghiburku… Saat aku futur kau selalu menyemangatiku….. Saat aku salah kau selalu menasehatiku…. Saat aku sakit kau selalu merawatku… Saat aku tidak bisa kau selalu mengajariku… Saat aku susah kau selalu membantuku.. Dan lain-lainnya dari jasa-jasamu yang tidak bisa kutulis kebaikanmu diatas kertas ini satu-persatu…. Ibuku pahlawanku… Itulah julukan yang kubuat untukmu… Karena kau rela taruhkan nyawamu demi kami, anak-anakmu… Ibuku, maafkan aku… Atas kesalahanku dahulu…. Terhadap ucapanku yang menyakiti hatimu…. Terhadap perilaku-perilaku kami anak-anakmu yang tidak sopan terhadapmu…. Diri-diri kami yang tidak berkenan dihatimu…. Semoga kedepannya kami bisa menjadi anak-anak yang berbakti kepadamu…. Dan yang terakhir ibu… Aku sangat bersukur memiliki ibu sepertimu…. Dan semoga surga firdaus kelak tempat kembalimu…. ibu. *** 2# Ibu Malaikatku Ibu Disini kutulis cerita tentangmu. Nafas yang tak pernah terjerat dusta. Tekad yang tak koyak oleh masa. Seberapapun sakitnya kau tetap penuh cinta. Ibu Tanpa lelah kau layani kami. Dengan segenap rasa bangga dihati. Tak terbesit sejenak pikirkan lelahmu. Kau terus berjalan diantara duri-duri. Ibu Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption id="attachment_215369" align="alignleft" width="300" caption="ibuku, pahlawanku ..."][/caption] Sepanjang perjalanan hidup kita, adakah yang lebih berjasa kepada kita selain ibu? Saya tahu, jawaban atas pertanyaan ini tentu akan beragam. Namun saya punya keyakinan bahwa sebagian besar jawaban atas pertanyaan ini adalah TIDAK ADA! Siapapun anda, entah seorang direktur atau tukang cukur, insinyur atau tukang sayur, jenderal atau kopral, pengamen atau parlemen, guru, dosen, menteri, presiden, bahkan raja atau seorang bandit sekalipun… pasti ia terlahir dari seorang ibu. Karenanya, tak dapat dipungkiri bahwa ibu merupakan sosok paling sentral dan monumental dalam hidup dan kehidupan kita. Rasanya, tidaklah berlebihan jika aku sendiri menyebut ibuku sebagai pahlawanku, bahkan tentu melebihi predikat itu. Ibuku adalah pahlawanku, bukan saja karena ia telah melahirkan dan membesarkanku. Lebih dari itu, ia adalah manusia pertama yang memberi segala inspirasi. Suka-duka, sedih-gembira, tangis dan tawa, segala senang dan derita. Darah, gairah,keringat, semangat, cintadan air mata –adalah sebongkah mutiara hidup dengan segala pemaknaan, kecemasan danpengharapan– ditumpahkannya dengan penuh kerelaan dan kasih perjalanan hidupku, tentu begitu banyak atau bahkan terlalu banyak pengorbanan dan pemberian yang telah dicurahkan ibuku untukku hingga aku tidak akan sanggup menghitungnya. Kalau pun aku harus mengingat dan menyebut pengorbanan dan pemberian itu satu per satu, aku yakin, apa yang kuingat dan apa yang kusebut pasti jauh lebih sedikit dari daftar pengorbanan dan pemberian ibuku yang tidak dapat kuingat dan tidak dapat kusebutkan. Namun dari semua itu, hal yang paling kuat kuingat dan kesan yang paling membekas dalam hatiku dari sosok ibuku adalah kesabaran, ketegaran dan kegigihannya. Ini antara lain terrekam dari bagaimana ia merawat, mendidik, dan membesarkan aku dan sepuluh orang kakakku dalam rentang waktu lebih dari setengah abad. Ada sebelas putera-puteri terlahir dari rahim ibuku. Sekitar 40-an tahun yang lalu, aku sendiri baru mampu mengingat dan menyadari bagaimana kesabaran, ketangguhan, dan kegigihanibuku menghadapi segenap persoalan kehidupan, termasuk dan terutama menangani keunikan sekaligus kenakalan sebelas orang anaknya. Masih segar dalam ingatanku bagaimana ibuku begitu sabar meladeni rengekan kerewelan dan kebandelanku dari hari ke hari. Namun segala kerewelanku selalu dihadapinya dengan senyum dikulum, dengan ketegaran dan kesabarannya. Kesabaran dan ketabahan ibuku laksana batu karang yang tegar dihantam gelombang pasang. Sementara kegigihan yang ditampilkannya bak pahlawan yang tandang ke medan juang. Pernah suatu ketika, aku dan tiga orang kakakku sakit keras dalam waktu bersamaan. Menghadapi situasi ini, ayahku tampak pasrah menyerah dan bahkan nyaris frustasi sehingga ayah seolah tak mampu berbuat apa-apa selain berdoa. Dengan ketegaran dan kegigihannya, ibuku justru yang tampil lebih sigap menghadapi situasi sulit itu. Saat itu, ibuku bukan saja tampil sigap menjadi perawat yang sabar dan cekatan, tapi ia begitu gigih mengupayakan berbagai alternatif untuk penyembuhan kami. Aku yakin, sebagai manusia biasa, ibuku tentu diliputi rasa galau dan gundah-gulana menghadapi situasi yang mencemaskan seperti itu. Namun kecemasan, kegalauan, dan kepanikannya nyaris tak pernah ia pertontonkan di depan kami, anak-anaknya. Yang justru sering kami saksikan dari ibu adalah semangat juang dan kegigihannya dalam menghadapi sejumlah masalah. Tanpa berkeluh kesah dan tanpa banyak bicara, segala masalah dihadapinya dengan tenang dan disikapinya denganheroik serta penuh optimisme. Dengan sikap dan tindakannya itu, ibuku seolah ingin mengatakan bahwa sebesar apapun persoalan yang kita hadapi, pasti akan ada jalan keluar untuk mengatasinya. Ibuku sungguh telah menjadi teladan dan pahlawan bagiku, pahlawan bagi keluargaku. [caption id="attachment_215370" align="alignleft" width="300" caption="me and mom"] 13523697681354967404 [/caption] Sikap heroik dan kepahlawanannya terutama ditunjukan ibuku saat ayahku meninggal dunia pada 1979. Sejak ayahku meninggal, ibuku tentu menanggung beban hidup yang amatberat beban moral, sosial, maupun finansial. Namun demikian, situasi sulit dan himpitan hidup yang amat berat itu sama sekali tidak membuat ibuku patah hal dilakukan ibuku agar kami tetap mampu bertahan. Beragam upaya dilakukan ibuku agar kami tetap dapat melanjutkan sekolah, agar kami mampumemenuhi segala kebutuhan untuk meniti dan menjalani kehidupan. Kegigihan dan heroisme yang dicontohkan ibuku, bukan saja telah mampu mengantarkan kami melewati masa-masa sulit, tapi sungguh telah menjadi inspirasi terpenting dalam hidupku. Kini usia ibuku sudah hampir satu abad. Seiring bertambahnya usia, fisiknya tampak semakin renta, namun jiwa dan semangat juangnya tetap terjaga, tetap menyala. Meski tubuhnya kian lemah, tapi kegigihan dan semangat juangnya seolah tak ketegaran dan kegigihan tak bosan-bosan ia contohkan di hadapan kami anak, cucu, dan kesabaran, ketegaran, dan kegigihan yang ditampilkan ibuku menjadi sumber motivasi dan inspirasi tersendiri. Bagiku, ibuku adalah pahlawan sejati ! [caption id="attachment_215371" align="aligncenter" width="300" caption="ibuku bersama cucu dan cicit ..."] 13523698631719761913 [/caption] Lihat Catatan Selengkapnya .
  • s22tcusr83.pages.dev/97
  • s22tcusr83.pages.dev/261
  • s22tcusr83.pages.dev/181
  • s22tcusr83.pages.dev/261
  • s22tcusr83.pages.dev/197
  • s22tcusr83.pages.dev/160
  • s22tcusr83.pages.dev/292
  • s22tcusr83.pages.dev/228
  • cerita pendek tentang ibuku pahlawanku